Ada Sinyal BI Akan Menaikkan Suku Bunga, Ekonom: Bisa Mengganggu Kredit Bank

Saat ini nilai tukar rupiah tengah merosot terhadap dollar Amerika hingga menyentuh kisaran Rp 14.200 / US$ hal ini memaksa pemerintah dan Bank Indonesia selaku bank sentral harus membuat langkah guna menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.

Dalam hal ini Bank Indonesia (BI) berencana akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG) tambahan pada 30 Mei mendatang dan memberikan sinyal menaikkan suku bunga acuannya lagi. Padahal beberapa waktu lalu BI telah menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 days repo reverse rate sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 4,5%.

Jika benar BI jadi menaikkan suku bunga lagi maka hal ini akan mengganggu pertumbuhan kredit bank. Hal ini seperti dijelaskan oleh Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada, Tony Prasetiantono.

“Betul, memang ada risiko mengganggu kredit perbankan. Namun, ini situasinya agak emergency, di mana depresiasi rupiah yang tajam juga tidak baik bagi perbankan,” ujar Tony seperti dikutip dari detikFinance.

Hal ini perlu dilakukan oleh bank Indonesia untuk menciptakan nilai tukar yang sesuai fundamental ekonomi Indonesia saat ini. Meski begitu penurunan suku bunga tetap menjadi target BI untuk jangka panjang, namun di tengah situasi yang seperti sekarang ini tidak ada salahnya BI menggunakan taktik menaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas ekonomi.

BI akan kembali menggelar RDG tambahan pada 30 Mei mendatang. BI memberi sinyal akan menaikkan suku bunga acuan sebagai bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas perekonomian.