Trump Pertimbangkan Cabut Perlakuan Khusus Impor dari Indonesia

Ada 124  barang dari Indonesia yang mendapatkan bebas bea masuk ke Amerika karena kebijakan Generalized System of Preferences (GSP). Namun saat ini Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang mengkaji ulang kebijakan tersebut dan ada kemungkinan untuk kebijakan GSP terhadap 124 barang dari Indonesia.

Hal ini sepertinya dipicu karena kenaikan defisit perdagangan Amerika dimana pada Januari lalu defisit perdagangan Amerika mencapai naik 5% jadi US$56,6 miliar (Rp 764,1 triliun) jika dibandingkan laporan bulan Desember. 

Di tengah isu perang dagang Amerika dengan Tiongkok dimana Trump telah menaikan bea masuk untuk sejumlah barang dari China sepertinya hal tersebut masih belum dapat mengurangi defisit perdagangan AS secara signifikan.

Menurut pandangan pengamat Ekonomi dari Bank Permata Jhosua Pardede, Amerika Serikat demi mengurangi defisit perdagangan mereka kini sedang mencari negara-negara mana saja yang mendapatkan GSP dan menyebabkan defisit perdagangan.

“Kan bisa kita lihat backgroundnya, Indonesia tren neraca perdagangan antara Indonesia- Amerika itu dari sisi Amerikanya defisit. Makanya Amerika sedang mencari-cari siapa yang membuat neraca perdagangannya menjadi defisit di neraca perdagangan AS sendiri,” seprti dilansir detikfiniace.

Sementara Ketua Tim Ahli Ekonomi Wakil Presiden Sofjan Wanandi menjelaskan bahwa jika benar nantinya GSP untuk 124 barang dari Indonesia dicabut maka kita berpontensi bayar bea masuk sekitar US$ 1,7-1,8 miliar.

Indonesia pun tidak menganggap enteng atas peringatan ancaman perang dagang dari Presiden Donal Trump. Berdasarkan keterangan dari Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan, Pemerintah akan mengirimkan tim negosiasi ke Amerika Serikat agar GSP untuk Indonesia tidak di cabut.

 Rencananya Time Negosiasi ini akan berangkat pada akhir Juli ini, namun dia masih belum dapat menjelaskan lengkah detil untuk pengiriman tim ini.

Related Post